Tampilkan postingan dengan label FARMAKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FARMAKOLOGI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

TIAMFENIKOL



TIAMFENIKOL

Indikasi = khloramfenikol
Aktivitas > lemah
Anemia aplastik fatal > jarang.


Gol. TETRASIKLIN


Derivat :
- Oksitetrasiklin
-Tetrasiklin
- Doksisiklin
- Minosiklin

Mekanisme Kerja :
Hambat sintesis protein bakteri

Spektrum Antibakteri :
- Luas
- Gram + dan –
- Ricketsia : tetrasiklin
- Chlamydia ( psitakosis, lymfogranuloma venerum, trachoma)
- Amuba

Resistensi :
- Menurunkan ambilan obat oleh bakteri
- Penyebaran conjugasi dan transduksi

Farmakokinetik :
- Absorbsi :
Melalui Sal cerna : kadarnya bervariasi dalam darah
Diganggu oleh adanya
- Makanan dan susu
- Antasida yang mengandung logam bivalen (Ca dan Mg) dan trivalent (Al)
- Preparat Fe 

Dengan logam2 ini tetrasiklin akan mbtuk kompl Chelate tdk diabs, mengganggu flora normal usus.

Yang abs lebih baik dan tidak diganggu makanan :
- Doksisilin
- Minosiklin

Distribuksi :
- Jar. Tubuh
- Cairan otak  : 3 –10% kadar dalam serum

Ekskresi :
- Ginjal
- Empedu (enterohepatik recirculation)

Minosiklin dan Doksisiklin
Ekskresi lebih lambat, sehingga dosis bisa : 1 –2 kali/ hari

Pemberian :
Oral dan parenteral
Indikasi :
Obat terpilih pada :
- Kolera
- Brusellolsis
- Myc. Pneumoniae
- Ricketsiosis
- Granuloma inguinale
- Chlamydia
- Acne : karena kadar asam lemak bebas dalam serum adalah rendah

Efektif terhadap : Gonorhoe, sifilis, inf. Sal nafas.

ES :
- Iritasi sal. Cerna : mual, muntah, diare
- Kerusakan ginjal  : warna tengguli : k btk komplek tetrasiklin – Ca – orthofosfat
- Penghambatan sementara pertumbuhan tulang
- Hepatotoksik : - kehamilan dan peny. Hati ® dosis besar ® gangguan faal hati.
- Nefrotoksik
Tetrasiklin (bila kena chy, tempat lembab, suhu tinggi) ® banhidrotetrasiklin+epianhidrotetrasiklin® fanconi like syndrom (Proteinuria, glukosuria, hipokalemia).

Tetra : warna kuning ® rusak (coklat)
-Toksisitas vestibuler ; minosiklin
Gangguan keseimbangan, tinnitus, nause.
- Superinfeksi :
Candidiasis (pemakaian yang lama)
- Fotosensitisasi ® bisa bule

Kontraindikasi :
Bila penderita alami payah ginjal : Doksisiklin
(jangan tetrasiklin gol lain k kumulasi obat, gangguan metab prot ®  uremia)

KHLORAMFENIKOL



KHLORAMFENIKOL


Derivat : - Khloramfenikol
                - Tiamfenikol

Mekanisme kerja :
   Hambat sintesa protein bakteri

Farmakokinetik :
   · Abs : - oral : cepat dan baik
          - kadar maksimal dalam darah 2 jam setelah makan obat
· distribusi  : baik pada mata dan otak.
Dalam hepar : konjugasi dengan asam glukoronat
Gangguan fungsi ginjal ; akumulasi obat.
   · Ekskresi : oral : 80-90 melli ginjal
                     5-10% khloramfenikol dalam urine.
   Pemberian :
Payah ginjal : dosis tidak dikurangi , kec pada ggl faal hati
Anak2 bentuk ester palmitat ® tidak pahit
IM/IV bentuk suksinat  ® sehingga dalam jaringan akan terhidrolisa ® dibebaskan.
Indikasi :
- Obat terpilih untuk demam typhoid
2 hr : perbaikan klinis
3– 5 hr : demam ¯
Salmonella typhi resisten : Ampisilin, Amoksisilin, Kotrimoksazol.
- Meningitis purulenta oleh H. Influenza :
Terapi awal anak (karena infeksi cukup berat) : Kloramfenikol + Ampisilin
Sampai hasil uji kultur selesai ( H. Influenza atau Pneumokokus).
- Infeksi Bakteri anaerob (B. fragilis)

ES

- Reaksi hipersensitivitas
Anemia aplastik (pansitopenia) : pada sum2 tulang
tidak tergantung besarnya dosis
hampir selalu terjadi bila pemberian berulang-ulang atau pemberian waktu lama
- kulit merah
- glossitios atrofi
- Reaksi Herxheimer ® demam2

- Reaksi toksik  :
tergantung dosis
- sum2 tulang
Bila kadar dalam darah mencapai 25 mg/ml.
Bila dosis ­, waktu lama.
Sembuh 2 minggu.

- Pada bayi Prematur : syndrom Grey
Bila dosis >> (200 mg/kg BB/hr) ® kematian 40%
Sisa : sembuh tanpa bekas
Gejala timbul setelah 2-9 hari (± 4 hari) diberikan
- bayi muntah
- tdk mau menyusu
- Pernaf cepat dan tidak teratur
- Sianosis
- Diare, faeces hijau
- Lemas, tubuh abu2
- Hipotermia.



Kemungkinan mekanisme :
-    insufisiensi ezim : glukoroniltransferase ® konjugasi kloramfenikol
-    Faal ekskresi ginjal belum sempurna
-    Dosis maksimal 25 mg/kgBB/hari : bayi < 1 bln.

- Neuritis Optik
- Pe ¯ visus bilateral
- Skotoma sentralis               kemungkinan pada anak dengan pberian >>> 2 bl.
- Perdarahan retina

- Superinfeksi :
Dalam waktu lama
Penderita daya tahan tubuh lemah

- Interaksi obat :
- Tolbutamid          
-    Fenitoin                Efek toksik ke 3 obat ini ­, krn biotransformasi dihambat.
-    Dikumarol

Fenobarbital ® t1/2 khloramfenikol < oleh karena induksi enzim (t1/2 memendek).

·  Usaha penghindaran bahaya
- Gunakan antimikroba lain yang > aman dan > efektif.
Cthnya : Ricketsiosis khloramfenikol > toksik, pilih tetrasiklin.
- Hindarkan pemberian kur yang berulang
Pada pend dengan kur yang berulang : periksa hematologik berkala
(jumlah leukosit dan hitung jenis).
- Perhatikan tumbulnya perdarahan dan inf baru.

AMINOGLIKOSIDA



AMINOGLIKOSIDA


Derivat :  - Streptomisin (tbc)
                 - Kanamisin
                 - Neomisin
                 - Gentamisin
                 - Tobramisin
- Amikasin
- Netilmisin
                 - Sisomisin

Persamaan sifat :
- Tidak bisa per oral
- Harus parenteral untuk efek sistemik
- Ekskresi hanya via ginjal (rusak : kumulasi toksik)
- Nefrotoksik
- Toksik terhadap saraf otak ke 8

Mekanisme kerja :   
    Menghambat sintesis protein secara irreversibel ® bakterisidal.

Farmakokinetik :
- Parenteral : distribusi ke seluruh tubuh kec. Cairan serebrospinal ® untuk meningitis efek < <.
- Ekskresi : ginjal (sebagian besar utuh).

Efek samping :

- N Vestibularis ( keseimbangan )

- N VIII ® - N. Acusticus (pendengaran )
                                                      ß                                                          
                                             tinnitus pada nada ­
                                                                    ß
                                                   Hati2 ® stop
Bila dilanjutkan  : kehilangan daya mendengar frek ­
Penyebab : aminoglikosida merusak sel yang menangkap getaran suara pada telingan dalam.

Hilangnya keseimbangan  :
Timbul syndroma Menier ® bila membuka mata ® dunia rasa bolak balik
Pasien muntah : bila obat ini di stop : ES ini berkurang.
Pada beberapa pasien efek ini tidak terlihat karena dikompensasi oleh mata ® dik dengan Romberg tes.

Penyebab : kerusakan sel rambut pada cochlea.
                                       
- Ginjal
Karena  : Aminoglikosida terkonsentrasi pada korteks ginjal ® kerusakan sel tubuli ® manifestasi sering dengan ke ­an kreatinin
Hati2 dengan obat yang bersifat nefrotoksik :
- Furosemid
- asam etakrinat
Ke 2nya  : diuretik kuat ® memperhebat nefrotoksik
Semua yang nefrotoksik berinteraksi dengan aminoglikosida

- Hambatan transmisi Neuromuskuler
Diatasi dengan beri
Ca dan Neurostigmin
Transmisi neuromuskuler dihambat ® manifestasi paralisis  ® atasi dengan Ca & neostigmin.

- lain2 :
Alergi dan supresif.

Indikasi :
  1. Gentamisin (prototype)
- Inf berat yang tidak responsif  terhadap obat lain, terutama bakteri Gram +. Kadar puncak tidak boleh > 12 mg/ml, kalau kadar dasar > 2 mg/ml  ® akumulasi di endolymph dengan konsentrasi tinggi  ® rusak sel pendengaran.
- Penggunaan topikal : hati2 resistensi
Contoh :  luka bakar karena Pseudomonas  ® hanya efektif.
- Gentamisin : bukan KI payah ginjal walaupun nefrotoksik
- Harus sesuaikan dosis  ® dosis ¯ interval diperpanjang.
-                Pedoman :
Creatinin clearence (baik)
Kadar creatinin
Monitor kadar

2        Kanamisin

 Untuk infeksi bakteri :
- Gram – 
- Mycobacteria

  1. Streptomisin
Indikasi terbatas :
- TBC
- pes/sampar

  1. Neomisin
Oral : Koma hepaticum, bersihkan saluran cerna.
Topikal
  1. Amikasin
Untuk yang resisten Gentamisin

  1. Dibeksin, Tobramisin, Sisomisin, Netilmisin
Dibekasin dan Sisomisin = gentamisin
Tobramisin : aktif terhadap Pseudomonas > gentamisin
Netilmisin : untuk yang resisten terhadap gentamisin (tidak lebih baik dari amikasin)